Sabtu, 29 Agustus 2015

Rupiah sudah 14.000 per USD, krisiskah kita?

Berbagai kabar miring seputar kondisi perekonomian baik Global maupun nasional menghasilkan kekhawatiran diberbagai kalangan, tidak hanya mereka yang bekerja sebagai buruh yang mana mereka dapat terancam oleh gelombang PHK, para investor mulai menarik dana mereka yang mana mereka khawatir terhadap potensi penurunan aset, kemudian para politikus yang (beberapa oknum) memanfaatkan momentum ini untuk sedikit membuat keruh kondisi yang mana seharusnya dapat disikapi dengan bijak. Ya memang harus diketahui bahwa hal ini (kritik) terhadap pemerintah memang diperlukan guna terus mengingatkan pemerintah atas kondisi perekonomian nasional saat ini, serta agar pemerintah tidak tidur menikmati berbagai fasilitas yang mereka terima.



rupiah, USD, krisis

Berbagai kabar miring yang terus dihembuskan oleh berbagai media menimbulkan kegelisahan diberbagai kalangan mulai dari para politikus, pelaku bisnis hingga para pedagang sayur mayur dan kebutuhan pokok. Sebenarnya wajar jika Rupiah berada pada posisi tersebut memberikan dampak yang sangat terasa bagi masyarakat kita yang selama ini memang negara kita sangat rentan terhadap perubahan kurs terutama USD. Semua kalangan saya pikir sudah sangat menyadari bahwa bahaya nilai tukar rupiah terutama terhadap USD sangat besar dibandingkan dengan mata uang dunia lainnya. Apalagi USD yang sebagai currency world memiliki pangsa pasar dunia lebih dari 40%. Bisa dibayangkan jika Amerika sedang demam dampak seperti apa yang akan diakibatkan olehnya? Well, saya pikir anda sudah tahu seperti apa situasi yang terjadi pada tahun 2008 silam.


Berbagai kalangan termasuk seorang teman saya yang berjualan ikan asin di pualu bali merasakan dampak anjloknya dilai tukar rupiah. Lalu benarkah sekarang ini kondisi ekonomi Indonesia akan menuju krisis seperti tahun 1998? Tidak ada yang tahu pasti untuk hal tersebut. Namun menurut saya, anggapan seperti itu terlalu dini dengan melihat kondisi saat ini.

Beberapa indikator yang sangat persisten dalam melihat apakah sebuah negara akan atau sedang krisis ekonomi adalah apakah saat ini sudah ada bank yang colaps? yang berhenti beroperasional? terjadi PHK secara massalkah? masyarakat beramai-ramai menarik dana di bank? jalanan masih ramai kendaraan pengangkut logistik atau tidak? masih menjamurkah para penjual gorengan? anda pribadi masih sering belanja atau makan diluar tanpa pusing memikirkan berapa harga diwarung-warung tersebut? Jika semua pertanyaan diatas tidak terjawab maka kondisi krisis ekonomi masih jauh dan semoga saja tidak terjadi pada negara kita tercinta ini.

Lalu kenapa baik media cetak maupun elektronik terus mengabarkan bahwa kondisi perekonomian indonesia menghadapi kondisi krisis saat ini?

Well, mari kita runut dari awal apa penyebab rupiah merosot tajam sampai hari ini. Pada tahun 2008 terjadi krisis ekonomi global yang parah yang bersumber dari Amerika Serikat yang berawal dari kasus Subprime Mortgage. Pada saat itu perekonomian AS berada dibawah titik nadir yang mengharuskan mereka melakukan bailout untuk menyelamatkan perekonomian AS dan dunia pada efek yang ditimbulkan nantinya. Yang kemudian dilakukanlah baillout dan the Fed akhirnya melakukan Quantitative Easing yakni mencetak dolar sebanyak mungkin yang kemudian disebarkan keseluruh dunia guna merangsang kembali pertumbuhan perekonomian global yang mana kal itu Eropa juga sedang dilanda menghadapi krisis.

Tidak hanya efek positif saja yang ditimbulkan oleh kebijakan Quantitative Easing ini, namun juga efek negatif yang bakal terjadi dikemudian hari. The Fed sudah memperingatkan bahwa kebijakan tersebut ada masa kadaluarsanya dimana dolar yang beredar di dunia akan kembali dipulangkan kenegaranya. Nah saat inilah kondisi yang diprediksikan saat itu. Mayoritas mata uang dunia mengalami pelemahan terhadap USD, dan untuk tingkat asia tenggara sendiri Indonesia menemapti posisi kedua setelah malaysia dalam hal pelemahan mata uang terhadap USD. Kenapa hal demikian terjadi? Jika anda memahami konsep dasar pasar bahwa hukum Supplay and Demand bahwa jika permintaan terhadap suatu produk meningkat maka harganya pun akan meningkat, begitu juga sebaliknya.

Sekarang jika anda lihat pertumbuhan perekonomian kita masih positif, dan seharusnya kita masih bersyukur jika dibandingkan pada pertumbuhan brasil dan korsel. Dimana pertumbuhan GDP mereka negatif.

Apakah pemerintah diam saja melihat kondisi sekarang ini? saya pikir tidak, hanya saja mungkin ada beberapa kebijakan yang berbeda dengan kebijakan dimasa presiden SBY dalam menghadapi gejolak ekonomi. Diman pada masa itu kebijakan pemerintah dalam menghadapi gejolak ekonomi adalah mengeluarkan berbagai stimulus yang dalam hal ini bersifat jangka pendek, sedangkan sekarang ini? sangat sedikit kebijakan jangka pendek dalam hal ini stimulus untuk menghadapi gejolak ekonomi, namun lebih banyak pada jangka panjang dengan agenda pembangunan infrastruktur yang sangat besar alias megaproyek dan seperti yang kita tahu subsidi BBM yang selama ini menjadi stimulus pertumbuhan negara ini (perlu diingat bahwa selama ini pertumbuhan ekonomi kita lebih banyak disokong oleh konsumsi) telah dicabut sehingga mau tidak mau harga kebutuhan pokok, sekunder, dan tersier meningkat dari sebelum subsidi dicabut. Karena pertumbuhan ekonomi kita disokong oleh konsumsi maka ketika masyarakat kita dengan kondisi seperti sekarang ini akan menahan keinginan untuk belanja.

Lalu BI sebagai otoritas moneter apakah diam saja melihat rupiah yang terkapar seperti itu? tidak melakukan intervensi apapun dipasar guna membuat rupiah kembali meningkat?

Beberapa hari lalu BI memaparkan bahwa intervensi mereka dipasar spot bukan untuk membuat rupiah kembali menguat namun menahan laju pelemahan rupiah. Mengapa BI hanya melakukan usaha menahan lanjutan pelemahan rupiah? Begini penjelasannya, Cadangan devisa kita terus melemah selain untuk membayar hutang pemerintah juga untuk menutup defisit transaksi berjalan, dan jika digunakan untuk membuat rupiah kembali menguat maka cadangan devisa tersebut akan secepatnya habis dan efeknya? yap hanya jangka pendek, jika sudah menguat, cadangan devisa terkuras habis apakah ada jaminan rupiah akan terus menguat? tidak sama sekali.

Jadi apa sebaiknya yang harus dilakukan? Nikmati saja. saya pikir itu tindakan yang reasonable untuk saat ini, toh jika anda maksa pemerintah dengan turun kejalan agar kembali mengeluarkan kebijakan untuk memperkuat posisi rupiah, hasilnya tetap akan sia-sia saja. Sampai kapan kondisi ini berlanjut? tidak ada yang tahu pasti.

Yang pasti adalah saat ini perekonomian Amerika sedang moncer-moncernya sehingga banyak dana yang dialihkan kesana. Apalagi Amerika dikenal sebagai negara dengan tingkat risk yang paling rendah dibanding negara-negara didunia. Berapapun tingginya harga dolar yang dipatok, tetap saja akan diburu. Seperti para penggemar batu akik, seberapapun mahalnya, tetap akan dibeli.

Ini adalah siklus ekonomi yang selalu terjadi, makanya kita tidak usah khawatir karena kedepannya perekonomian akan kembali stabil. Dan ini bukanlah kesalahan pemerintah saat ini dan seblumnya semata, tetapi memang kondisi global serta harga produk-produk komoditas yang anjlok.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar